ada waktu di mana setiap orang berdiri di depan pintu pilihan. kiri dan kanan, masing-masing miliki bahagia dan deritanya. namun tidak pernah mungkin ada kesempatan untuk pilih ke dua-dua nya untuk di masuki dan menjalani hidup di dalamnya. kecuali jika tubuh, jiwa dan raga dapat di belah dua. well, ini hanya ada di negri dongeng. mari bicara tentang dunia nyata.
satu hal penting yang membuat orang akhirnya menjatuhkan pilihan, karena setiap orang pasti harus memilih satu pintu, karena tidak mungkin orang dapat tidak memilih alias hanya berdiri di depan pintu terseut dan tidak berbuat apa-apa. ya bisa aja sih, tapi konsekuensi nya menyakitkan; kalo bukan dianggap gila, menganggap semua orang yang ada di dunia gila. kembali ke satu hal penting tadi; setiap orang menjatuhkan pilihan berdasarkan filosofi hidupnya, bagaimana cara setiap orang memandang hidup dan memaknai hidup.
ada surga di pintu sebelah kiri. namun tidak semua orang memiliki persepsi yang sama perihal surga yang ada di pintu sebelah kiri, sehingga pintu sebelah kanan dipilih. ada neraka di pintu sebelah kanan. well, kembali ke masalah persepsi dan filosofi hidup, bisa saja neraka tersebut serasa bagai surga bagi sebagian orang dan mengambil langkah ke pintu tersebut.
ada sebuah kisah miris tapi menarik tentang sebagian orang. ketika berdiri di depan ke-dua pintu tersebut mereka yakin melangkah ke pintu sebelah kanan dan bahagia hidup dengan pilihannya dan berjalan terus maju meski banyak masalah tetek bengek hidup melanda, namun di sana indah. alhasil, tersebutlah sebuah moment di mana sesorang keluar untuk melihat-lihat dunia. niat hendak bertamasya dan merasakan, apakah dunia di luar sana?
dia permisi pada yang empunya rumah dan jalan-jalan keluar. ketika melihat pintu sebelah kiri, hatinya sangat gentar dan takut dengan segala hal yang mungkin ada di dalamnya. masih baru dan tidak familiar. merasa asing dan ditolak. merasa tidak nyaman dan tidak sejahtera. namun seseorang ini punya nyali ingin berenang ke tengah samudera luas dan dalam. teori katak rebus terjadi. katak hidup dimasukkan ke air di dalam panci. di tenggerkan di atas tungku api dengan panas perlahan dari panas rendah ke panas tinggi, si katak tidak sadar dengan suhu yang naik. lama kelamaan air panas, si katak sudah menyesuaikan diri dengan suhunya. akhirnya mendidih dan si katak matang ter terbus.
well, entah apa yang terjadi. hati nurani yang tersembunyi di hati yang paling dalam teriak. meski selama ini tetap teriak, namun tidak kedengaran di tengah riuh renyah ombak di samudera yang luas dan dalam. teriakan itu akhirnya kedengaran, meski perlahan seperti berbisik kedengarannya. tapi terdengar. dia akhirnya sangat ingin pulang. di rumahnya, di tempat dia harusnya ada, tersedia sukacita, damai sejahtera, cinta kasih, ketulusan, dan indahnya hidup dalam arti yang sesungguhnya. hati nurani nya mengingatkan meski telah samar-samar terdengar. bahkan seolah-olah itu semua hanya ada di dream-world. namun sangat kuat untuk menarik dia keluar dan kembali ke pintu sebelumnya.
untuk ke dua kali nya, dia berdiri di hadapan pintu pilihan. kini banyak pertimbangan yang mengerubingi sarafnya. akankah maju atau tetap mundur dan kembali ke pintu kiri. karena sesungguhnya mungkin dia takut, ketika kembali menyadari salah, akankah ada kesempatan lagi untuk kembali. namun untuk mundur, begitu banyak indah, bahagia dan cantik yang ditawarkan, namun semu.
saat-saat seperti ini, hanya ada satu pegangan benar dari seribu kenyataan yang ada di hadapan mata. dan saat-saat seperti ini, biasanya, perspesi tentang surga dan neraka dunia yang mana pun, blur gambarannya. nyaris tak ada bedanya. saat-saat seperti ini, dia butuh hanya diam, dan mengampuni diri sendiri atas pilihan yang menghianati hati nurani-nya sendiri.
kemudian ada waktu di mana setiap orang akan menghadapi moment pengenalan yang benar tentang dirinya sendiri dan kepunyaan dunia yang mana dia. di waktu ini, tidak sulit untuk memilih akan masuk pintu yang sebelah mana. akan ada waktunya. meski berbeda bagi setiap orang. pasti ada waktunya.
:)
0 komentar:
Poskan Komentar