"Hallelujah anyhow, Never let your troubles get you down.
When trials come your way- Hold your head high and say-
Hallelujah anyhow."
pernah aku terlibat dalam suatu pembahasan tentang lagu ini yang kelihatannya terlalu muluk tentang keadaan manusia. mengkritisi, bagaimana mungkin manusia dapat senantiasa bersukacita dan mengucap syukur serta memuji Tuhan manusia kan juga manusia dengan segala kemansiaannya? well, nggak pernah luput dari berbagai macam masalah dalam kehidupan. apakah tidak terlalu muluk untuk mengatakan senantiasa bersukur dan bersukacita?
sekarang aku mengerti mengapa. Firman Tuhan juga mengatakan agar kita bersukacita, bahkan ada pengulangan, untuk bersukacita senantiasa.
akhirnya aku paham mengapa lagu ini ada. (mungkin)karena manusia memang tidak pernah luput dari masalah. setelah lepas dari satu masalah, masuk ke masalah yang lain. bahkan kadang2 masalah itu datang bergerombol dan mengeroyok. wajar dong kalau akhirnya manusia galau dan dirundung duka. tidak bisa dipungkiri pula bahwa ini menyebabkan manusia lupa untuk melihat dunia yang lebih luas dan bersukacita. maka manusia perlu senantiasa diingatkan untuk bersyukur dan bersukacita untuk hal apa pun yang sedang terjadi pada manusia.
mengutip suatu nasihat yg indah:
marahlah sebentar, bergembiralah yang lama, mencintailah sepanjang hidup. (Mario Teguh, 21 Agustus 2011).
Melody of Heart
every moment is lyrics, every event is tone, every time is music, chain in melody of heart... feeling, emotions, reflections... feel all these in god's grace
Jumat, 18 November 2011
Jumat, 04 November 2011
:)
sekarang aku melihat jelas bahwa sang waktu memang melesat cepat perginya. aku baru melihat bahwa waktu itu sesungguhnya jahat, dia tidak pernah mau kembali dan mengulang detik yang sama untuk sekedar mengulang moment yang mungkin perlu diperbaiki. dan aku kini berada di titik di mana harusnya aku berada; jika ini memang yang Tuhan mau, karena aku hanya bisa simpulkan bahwa ini adalah yang ku mau, belum tentu Tuhan mau tapi Dia ijinkan.
setelah membuka satu per satu album kehidupan, aku mendesah syukur... juga sesal. ada paham maklum ketika sesuatu telah dapat kucapai dengan sebaik mungkin. ada sesal yang besar mengganjal dan menyesak dada ketika melihat hal yang tidak dapat ku raih atau terlewatkan. pikir2 aku ini adalah seorang beruntung yang kurang bisa bersyukur. mengapa tak ku pegang saja semua hal baik itu dan menghabiskan waktu untuk menggandakannya sebagai rasa syukur pada Nya. bukan malah merutuk banyak hal yang tidak ada padaku?
pikir2, satu per satu itu perlahan berlayar jauh mengarungi hidupnya. dan aku masih di sini berharap sesuatu yang sempurna sesuai dengan yang telah terbingkai di benakku. masih belum datang. dan mereka semakin jauh berlayar, hampir menyentuh siluet mentari di senja hari yang berangsur padam. mau ku gambarkan rasa mirisnya? hmmm... okey, tapi sulit. yang ku rasakan hanya sesak oleh sesal yang tak perlu sama sekali. ya, tak perlu. sebab memang sudah begitu harusnya terjadi. toh, ternyata aku juga tak punya nyali untuk menaiki kapal itu tadinya. aku yang memilih masih tinggal dan menunggu tumpanganku belum tau kapan.
pikir2 lagi... aku ternyata sedang ngawur. mengapa aku harus sesali?
pikir2 lagi... aku makin ngawur sengawur ngawurnya... bukankah apa yang ku miliki kini jauh lebih baik dari apa yang sudah pernah ada? hmmm... nggak juga. ya sudahlah... aku lebih baik turn on pikiran waras dan rasional.
pikir2...waktu itu memang sedikit jahat ya? mengapa dia tidak mau kembali dan memberi kesempatan ke dua? aku kan bukan orang sempurna yang bisa menjadi berhikmat dan bijaksana dalam waktu singkat? tapi toh waktu sudah pergi. gerombolan yang ada kini pun akan segera berlalu meski aku memutuskan ataupun tidak. dia tidak perduli sama sekali.
pikir2... Papa pernah bilang "jangan pernah sesali gagal atau tidak tercapaimu atas sesuatu, tapi menyesallah jika kau tidak gunakan waktu sebaik mungkin".
:)
setelah membuka satu per satu album kehidupan, aku mendesah syukur... juga sesal. ada paham maklum ketika sesuatu telah dapat kucapai dengan sebaik mungkin. ada sesal yang besar mengganjal dan menyesak dada ketika melihat hal yang tidak dapat ku raih atau terlewatkan. pikir2 aku ini adalah seorang beruntung yang kurang bisa bersyukur. mengapa tak ku pegang saja semua hal baik itu dan menghabiskan waktu untuk menggandakannya sebagai rasa syukur pada Nya. bukan malah merutuk banyak hal yang tidak ada padaku?
pikir2, satu per satu itu perlahan berlayar jauh mengarungi hidupnya. dan aku masih di sini berharap sesuatu yang sempurna sesuai dengan yang telah terbingkai di benakku. masih belum datang. dan mereka semakin jauh berlayar, hampir menyentuh siluet mentari di senja hari yang berangsur padam. mau ku gambarkan rasa mirisnya? hmmm... okey, tapi sulit. yang ku rasakan hanya sesak oleh sesal yang tak perlu sama sekali. ya, tak perlu. sebab memang sudah begitu harusnya terjadi. toh, ternyata aku juga tak punya nyali untuk menaiki kapal itu tadinya. aku yang memilih masih tinggal dan menunggu tumpanganku belum tau kapan.
pikir2 lagi... aku ternyata sedang ngawur. mengapa aku harus sesali?
pikir2 lagi... aku makin ngawur sengawur ngawurnya... bukankah apa yang ku miliki kini jauh lebih baik dari apa yang sudah pernah ada? hmmm... nggak juga. ya sudahlah... aku lebih baik turn on pikiran waras dan rasional.
pikir2...waktu itu memang sedikit jahat ya? mengapa dia tidak mau kembali dan memberi kesempatan ke dua? aku kan bukan orang sempurna yang bisa menjadi berhikmat dan bijaksana dalam waktu singkat? tapi toh waktu sudah pergi. gerombolan yang ada kini pun akan segera berlalu meski aku memutuskan ataupun tidak. dia tidak perduli sama sekali.
pikir2... Papa pernah bilang "jangan pernah sesali gagal atau tidak tercapaimu atas sesuatu, tapi menyesallah jika kau tidak gunakan waktu sebaik mungkin".
:)
Selasa, 06 September 2011
timpang sejenak
bisa bayangkan? ...
gitar tanpa senar
sepeda motor tanpa bensin
pohon tanpa akar
rumah kosong
lagu tanpa musik
atau bayangkan saja burung tanpa sayap..
timpang.
bagaimana kalau,
senar gitar dibeli dan dipasang?
sepeda motor diisi bensin?
pohon di pindah ke tanah subur, diberi kompos, dan disiram teratur?
rumah diisi dengan benda2nya dan orangnya?
lagu nya di beri aransemen musik baru?
atau burungnya di beri sayap buatan?
mungkin timpangnya tidak lama.
gitar tanpa senar
sepeda motor tanpa bensin
pohon tanpa akar
rumah kosong
lagu tanpa musik
atau bayangkan saja burung tanpa sayap..
timpang.
bagaimana kalau,
senar gitar dibeli dan dipasang?
sepeda motor diisi bensin?
pohon di pindah ke tanah subur, diberi kompos, dan disiram teratur?
rumah diisi dengan benda2nya dan orangnya?
lagu nya di beri aransemen musik baru?
atau burungnya di beri sayap buatan?
mungkin timpangnya tidak lama.
Selasa, 26 Juli 2011
ada
ada waktu di mana setiap orang berdiri di depan pintu pilihan. kiri dan kanan, masing-masing miliki bahagia dan deritanya. namun tidak pernah mungkin ada kesempatan untuk pilih ke dua-dua nya untuk di masuki dan menjalani hidup di dalamnya. kecuali jika tubuh, jiwa dan raga dapat di belah dua. well, ini hanya ada di negri dongeng. mari bicara tentang dunia nyata.
satu hal penting yang membuat orang akhirnya menjatuhkan pilihan, karena setiap orang pasti harus memilih satu pintu, karena tidak mungkin orang dapat tidak memilih alias hanya berdiri di depan pintu terseut dan tidak berbuat apa-apa. ya bisa aja sih, tapi konsekuensi nya menyakitkan; kalo bukan dianggap gila, menganggap semua orang yang ada di dunia gila. kembali ke satu hal penting tadi; setiap orang menjatuhkan pilihan berdasarkan filosofi hidupnya, bagaimana cara setiap orang memandang hidup dan memaknai hidup.
ada surga di pintu sebelah kiri. namun tidak semua orang memiliki persepsi yang sama perihal surga yang ada di pintu sebelah kiri, sehingga pintu sebelah kanan dipilih. ada neraka di pintu sebelah kanan. well, kembali ke masalah persepsi dan filosofi hidup, bisa saja neraka tersebut serasa bagai surga bagi sebagian orang dan mengambil langkah ke pintu tersebut.
ada sebuah kisah miris tapi menarik tentang sebagian orang. ketika berdiri di depan ke-dua pintu tersebut mereka yakin melangkah ke pintu sebelah kanan dan bahagia hidup dengan pilihannya dan berjalan terus maju meski banyak masalah tetek bengek hidup melanda, namun di sana indah. alhasil, tersebutlah sebuah moment di mana sesorang keluar untuk melihat-lihat dunia. niat hendak bertamasya dan merasakan, apakah dunia di luar sana?
dia permisi pada yang empunya rumah dan jalan-jalan keluar. ketika melihat pintu sebelah kiri, hatinya sangat gentar dan takut dengan segala hal yang mungkin ada di dalamnya. masih baru dan tidak familiar. merasa asing dan ditolak. merasa tidak nyaman dan tidak sejahtera. namun seseorang ini punya nyali ingin berenang ke tengah samudera luas dan dalam. teori katak rebus terjadi. katak hidup dimasukkan ke air di dalam panci. di tenggerkan di atas tungku api dengan panas perlahan dari panas rendah ke panas tinggi, si katak tidak sadar dengan suhu yang naik. lama kelamaan air panas, si katak sudah menyesuaikan diri dengan suhunya. akhirnya mendidih dan si katak matang ter terbus.
well, entah apa yang terjadi. hati nurani yang tersembunyi di hati yang paling dalam teriak. meski selama ini tetap teriak, namun tidak kedengaran di tengah riuh renyah ombak di samudera yang luas dan dalam. teriakan itu akhirnya kedengaran, meski perlahan seperti berbisik kedengarannya. tapi terdengar. dia akhirnya sangat ingin pulang. di rumahnya, di tempat dia harusnya ada, tersedia sukacita, damai sejahtera, cinta kasih, ketulusan, dan indahnya hidup dalam arti yang sesungguhnya. hati nurani nya mengingatkan meski telah samar-samar terdengar. bahkan seolah-olah itu semua hanya ada di dream-world. namun sangat kuat untuk menarik dia keluar dan kembali ke pintu sebelumnya.
untuk ke dua kali nya, dia berdiri di hadapan pintu pilihan. kini banyak pertimbangan yang mengerubingi sarafnya. akankah maju atau tetap mundur dan kembali ke pintu kiri. karena sesungguhnya mungkin dia takut, ketika kembali menyadari salah, akankah ada kesempatan lagi untuk kembali. namun untuk mundur, begitu banyak indah, bahagia dan cantik yang ditawarkan, namun semu.
saat-saat seperti ini, hanya ada satu pegangan benar dari seribu kenyataan yang ada di hadapan mata. dan saat-saat seperti ini, biasanya, perspesi tentang surga dan neraka dunia yang mana pun, blur gambarannya. nyaris tak ada bedanya. saat-saat seperti ini, dia butuh hanya diam, dan mengampuni diri sendiri atas pilihan yang menghianati hati nurani-nya sendiri.
kemudian ada waktu di mana setiap orang akan menghadapi moment pengenalan yang benar tentang dirinya sendiri dan kepunyaan dunia yang mana dia. di waktu ini, tidak sulit untuk memilih akan masuk pintu yang sebelah mana. akan ada waktunya. meski berbeda bagi setiap orang. pasti ada waktunya.
:)
satu hal penting yang membuat orang akhirnya menjatuhkan pilihan, karena setiap orang pasti harus memilih satu pintu, karena tidak mungkin orang dapat tidak memilih alias hanya berdiri di depan pintu terseut dan tidak berbuat apa-apa. ya bisa aja sih, tapi konsekuensi nya menyakitkan; kalo bukan dianggap gila, menganggap semua orang yang ada di dunia gila. kembali ke satu hal penting tadi; setiap orang menjatuhkan pilihan berdasarkan filosofi hidupnya, bagaimana cara setiap orang memandang hidup dan memaknai hidup.
ada surga di pintu sebelah kiri. namun tidak semua orang memiliki persepsi yang sama perihal surga yang ada di pintu sebelah kiri, sehingga pintu sebelah kanan dipilih. ada neraka di pintu sebelah kanan. well, kembali ke masalah persepsi dan filosofi hidup, bisa saja neraka tersebut serasa bagai surga bagi sebagian orang dan mengambil langkah ke pintu tersebut.
ada sebuah kisah miris tapi menarik tentang sebagian orang. ketika berdiri di depan ke-dua pintu tersebut mereka yakin melangkah ke pintu sebelah kanan dan bahagia hidup dengan pilihannya dan berjalan terus maju meski banyak masalah tetek bengek hidup melanda, namun di sana indah. alhasil, tersebutlah sebuah moment di mana sesorang keluar untuk melihat-lihat dunia. niat hendak bertamasya dan merasakan, apakah dunia di luar sana?
dia permisi pada yang empunya rumah dan jalan-jalan keluar. ketika melihat pintu sebelah kiri, hatinya sangat gentar dan takut dengan segala hal yang mungkin ada di dalamnya. masih baru dan tidak familiar. merasa asing dan ditolak. merasa tidak nyaman dan tidak sejahtera. namun seseorang ini punya nyali ingin berenang ke tengah samudera luas dan dalam. teori katak rebus terjadi. katak hidup dimasukkan ke air di dalam panci. di tenggerkan di atas tungku api dengan panas perlahan dari panas rendah ke panas tinggi, si katak tidak sadar dengan suhu yang naik. lama kelamaan air panas, si katak sudah menyesuaikan diri dengan suhunya. akhirnya mendidih dan si katak matang ter terbus.
well, entah apa yang terjadi. hati nurani yang tersembunyi di hati yang paling dalam teriak. meski selama ini tetap teriak, namun tidak kedengaran di tengah riuh renyah ombak di samudera yang luas dan dalam. teriakan itu akhirnya kedengaran, meski perlahan seperti berbisik kedengarannya. tapi terdengar. dia akhirnya sangat ingin pulang. di rumahnya, di tempat dia harusnya ada, tersedia sukacita, damai sejahtera, cinta kasih, ketulusan, dan indahnya hidup dalam arti yang sesungguhnya. hati nurani nya mengingatkan meski telah samar-samar terdengar. bahkan seolah-olah itu semua hanya ada di dream-world. namun sangat kuat untuk menarik dia keluar dan kembali ke pintu sebelumnya.
untuk ke dua kali nya, dia berdiri di hadapan pintu pilihan. kini banyak pertimbangan yang mengerubingi sarafnya. akankah maju atau tetap mundur dan kembali ke pintu kiri. karena sesungguhnya mungkin dia takut, ketika kembali menyadari salah, akankah ada kesempatan lagi untuk kembali. namun untuk mundur, begitu banyak indah, bahagia dan cantik yang ditawarkan, namun semu.
saat-saat seperti ini, hanya ada satu pegangan benar dari seribu kenyataan yang ada di hadapan mata. dan saat-saat seperti ini, biasanya, perspesi tentang surga dan neraka dunia yang mana pun, blur gambarannya. nyaris tak ada bedanya. saat-saat seperti ini, dia butuh hanya diam, dan mengampuni diri sendiri atas pilihan yang menghianati hati nurani-nya sendiri.
kemudian ada waktu di mana setiap orang akan menghadapi moment pengenalan yang benar tentang dirinya sendiri dan kepunyaan dunia yang mana dia. di waktu ini, tidak sulit untuk memilih akan masuk pintu yang sebelah mana. akan ada waktunya. meski berbeda bagi setiap orang. pasti ada waktunya.
:)
Rabu, 08 Juni 2011
time for asking everything
only when I realize that my knowledge is not enough for the world to be better. before, I was thinking that I had mature enough and it's the time for me to dive into the ocean of professionalism, then I dive. but there, deep down the sea, there is so much stuff which can't be identified by my radar. and it means that my knowledge only fit in the surface yet. so shameful. then I ask myself, is that me who is worth for such field?
well, when I think that my philosophy is right enough to compete in the world of all the scientists and I'm ready to shoot all the bullet by saying my true words. but then realizing, that all the words actually not true enough fit for all the souls who are listening. then I ask myself, is this the qualification that my world need?
then let's enjoy the beauty of love given by someone who is suddenly attend before us. offer a bunch of love, affection, care... but well, fake. then say we enjoy even for a little while, then we'll release it when we feel we strong enough to not receive such kind of love anymore. but then I ask myself, can we just release ourselves from such addictive stuff which is indelibly printed in our emotional organ; which is really difficult actually.
so, what actually fit and right enough for something in the exact time?
well, when I think that my philosophy is right enough to compete in the world of all the scientists and I'm ready to shoot all the bullet by saying my true words. but then realizing, that all the words actually not true enough fit for all the souls who are listening. then I ask myself, is this the qualification that my world need?
then let's enjoy the beauty of love given by someone who is suddenly attend before us. offer a bunch of love, affection, care... but well, fake. then say we enjoy even for a little while, then we'll release it when we feel we strong enough to not receive such kind of love anymore. but then I ask myself, can we just release ourselves from such addictive stuff which is indelibly printed in our emotional organ; which is really difficult actually.
so, what actually fit and right enough for something in the exact time?
Senin, 25 April 2011
3 jenis orang
Beberapa hari lalu aq baca buku 'the doctors' kumpulan kisah beberapa dokter sukses di Indonesia. aq suka baca bacaan sejenis biography. aq senang menyelami pelajaran hidup yang telah teraplikasi dalam hidup para maestro nilai kehidupan tersebut. aq terkesan dengan satu kutipan dari dr. Lula Kamal tentang merelakan orang-orang yang amat kita kasihi dalam hidup.
begini katanya; Tuhan menghadirkan 3 jenis orang dalam hidup kita.
pertama, orang yang hadir dalam hidup untuk menemani sesaat saja.
jenis orang yang kedua adalah orang yang hadir dalam hidup kita untuk suatu sebab. terakhir, yang ketiga adalah orang yang akan menemani sepanjang hayat.
ungkapan ini sedikit membantuku untuk berpikir lebih luas tentang makna kehadiran setiap orang yang sangat berarti dalam hidupku. ketika mungkin seseorang muncul kemudian memberi arti yang sangat dalam namun akhirnya pergi, pasti menimbulkan rasa sedih dan kehilangan yang sangat dalam. namun dengan falsafah ini, setidaknya aq mampu untuk bernafas lega dan menerima bahwa mungkin seseorang itu adalah orang jenis orang pertama atau kedua. mungkin suatu saat, tepat seperti yang Tuhan telah rencanakan, aq akan bertemu dengan orang jenis ketiga: yang hadir untuk menemani aq sepanjang hayat. :)
begini katanya; Tuhan menghadirkan 3 jenis orang dalam hidup kita.
pertama, orang yang hadir dalam hidup untuk menemani sesaat saja.
jenis orang yang kedua adalah orang yang hadir dalam hidup kita untuk suatu sebab. terakhir, yang ketiga adalah orang yang akan menemani sepanjang hayat.
ungkapan ini sedikit membantuku untuk berpikir lebih luas tentang makna kehadiran setiap orang yang sangat berarti dalam hidupku. ketika mungkin seseorang muncul kemudian memberi arti yang sangat dalam namun akhirnya pergi, pasti menimbulkan rasa sedih dan kehilangan yang sangat dalam. namun dengan falsafah ini, setidaknya aq mampu untuk bernafas lega dan menerima bahwa mungkin seseorang itu adalah orang jenis orang pertama atau kedua. mungkin suatu saat, tepat seperti yang Tuhan telah rencanakan, aq akan bertemu dengan orang jenis ketiga: yang hadir untuk menemani aq sepanjang hayat. :)
Senin, 21 Maret 2011
:D
pengen nulis lagi. tapi nge-blank. ini hasilnya. hahaha....
saya tertarik menelusuri perjalanan hidup setiap orang. entah mengapa, ada begitu banyak hal yang tidak akan pernah habis dan selesai di pelajari dari setiap individu. dalam setiap hal baik dan buruk yang terjadi, Tuhan seakan2 bercerita tentang hatiNya. kemudian saya berpikir, bahwa ketika Tuhan menciptakan makhluk yang satu ini, Dia benar2 menaruhkan setiap keistimewaan yang menyerupai Dia, yang, tidak akan pernah selesai untuk dipelajari dan tidak akan pernah habis meskipun telah dieksplor berulang-ulang. dan meskipun demikian, setiap orang pun belum tentu akan mengenal "keseluruhan" dari Allah yang menciptakan. dan memang, siapa pun di dunia ini, bahkan Rasul Paulus yang telah menyatakan cinta nya yang habis-habisan pada Tuhan pun, mungkin belum bisa menjabarkan sepenuhnya dan sedetilnya definisi tentang Allah. karena Dia memang bukan untuk dikenal secara teori, tetapi dengan hati, dengan iman, dan dengan pertolongan Roh Kudus.
kemudian saya berpikir, demikian juga lah mungkin dengan manusia. kita tidak akan pernah dapat menyimpulkan bahwa si anu begini, atau si ani begini, atau si ana begono. karena adakalanya satu orang berjalan di depan yang lainnya di belakang, dan mungkin di lain hari orang yang di belakang akan memimpin di depan dan yang lain memutuskan untuk berjalan mengikutinya. tidak akan pernah ada yang tau.
saya tertarik dengan para tokoh dunia. tentang Albert Einstein, ketika dia kecil, orang2 sekelilingnya (tentu saja tidak semua) menaruh prasangka minor terhadap kemampuannya untuk dapat fight dengan kehidupan, tapi akhirnya namanya tercatat sebagai tokoh yang berjasa untuk menyumbangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. atau tentang Barak Obama, Presiden AS. orang-orang di masa kecilnya, mana ada yang bisa menerawang bahwa kelak beberapa puluh tahun ke depan Obama akan menjadi orang nomor satu di negara adidaya itu. atau sebutlah saya, nama saya Endang, sebelum moment pemulihan gambar diri saya, saya sendiri bahkan sulit percaya bahwa saya bisa survive dalam kehidupan konon lagi menyumbang ide untuk kebaikan kehidupan umat manusia. tapi sekarang, setidaknya saya sudah mengerti bahwa saya berharga dan dapat berguna untuk tujuan mulia Tuhan. sebut saja teman saya, namanya Butet. ketika sekolah dasar dia merasa bahwa dia adalah orang paling hebat di antara teman-teman lainnya. tidak ada yang dapat mengimbangi dalam hal bergaul dan menyamai kemampuannya untuk berantem. sekarang butet ada di suatu tempat untuk bekerja membiayai anaknya yang tanpa ayah. butet bahkan belum menyelesaikan tahun sekolahnya. well, intinya, apa yang terjadi hari ini, tidak sama dengan esok dan esoknya lagi. dan hari esok bisa menjadi lebih baik atau menjad lebih buruk, manusia memilih.
saya tertarik menelusuri perjalanan hidup setiap orang. entah mengapa, ada begitu banyak hal yang tidak akan pernah habis dan selesai di pelajari dari setiap individu. dalam setiap hal baik dan buruk yang terjadi, Tuhan seakan2 bercerita tentang hatiNya. kemudian saya berpikir, bahwa ketika Tuhan menciptakan makhluk yang satu ini, Dia benar2 menaruhkan setiap keistimewaan yang menyerupai Dia, yang, tidak akan pernah selesai untuk dipelajari dan tidak akan pernah habis meskipun telah dieksplor berulang-ulang. dan meskipun demikian, setiap orang pun belum tentu akan mengenal "keseluruhan" dari Allah yang menciptakan. dan memang, siapa pun di dunia ini, bahkan Rasul Paulus yang telah menyatakan cinta nya yang habis-habisan pada Tuhan pun, mungkin belum bisa menjabarkan sepenuhnya dan sedetilnya definisi tentang Allah. karena Dia memang bukan untuk dikenal secara teori, tetapi dengan hati, dengan iman, dan dengan pertolongan Roh Kudus.
kemudian saya berpikir, demikian juga lah mungkin dengan manusia. kita tidak akan pernah dapat menyimpulkan bahwa si anu begini, atau si ani begini, atau si ana begono. karena adakalanya satu orang berjalan di depan yang lainnya di belakang, dan mungkin di lain hari orang yang di belakang akan memimpin di depan dan yang lain memutuskan untuk berjalan mengikutinya. tidak akan pernah ada yang tau.
saya tertarik dengan para tokoh dunia. tentang Albert Einstein, ketika dia kecil, orang2 sekelilingnya (tentu saja tidak semua) menaruh prasangka minor terhadap kemampuannya untuk dapat fight dengan kehidupan, tapi akhirnya namanya tercatat sebagai tokoh yang berjasa untuk menyumbangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. atau tentang Barak Obama, Presiden AS. orang-orang di masa kecilnya, mana ada yang bisa menerawang bahwa kelak beberapa puluh tahun ke depan Obama akan menjadi orang nomor satu di negara adidaya itu. atau sebutlah saya, nama saya Endang, sebelum moment pemulihan gambar diri saya, saya sendiri bahkan sulit percaya bahwa saya bisa survive dalam kehidupan konon lagi menyumbang ide untuk kebaikan kehidupan umat manusia. tapi sekarang, setidaknya saya sudah mengerti bahwa saya berharga dan dapat berguna untuk tujuan mulia Tuhan. sebut saja teman saya, namanya Butet. ketika sekolah dasar dia merasa bahwa dia adalah orang paling hebat di antara teman-teman lainnya. tidak ada yang dapat mengimbangi dalam hal bergaul dan menyamai kemampuannya untuk berantem. sekarang butet ada di suatu tempat untuk bekerja membiayai anaknya yang tanpa ayah. butet bahkan belum menyelesaikan tahun sekolahnya. well, intinya, apa yang terjadi hari ini, tidak sama dengan esok dan esoknya lagi. dan hari esok bisa menjadi lebih baik atau menjad lebih buruk, manusia memilih.
Langgan:
Entri (Atom)