Senin, 07 September 2020

Mereka adalah Aku

 pernah nggak sih ketemu sama orang yang arogan, belagu, sombong dan menggunakan wewenangnya seenaaknya seolah-olah mereka yang empunya semuanya. pernah lah. mungkin itu adalah aku, bagi orang lain. 


gitu.


coba deh, berkaca dan lihat diri sendiri setiap kali tergoda untuk melempar benci kepada orang dan berniat hendak memaki atau mengutuk. karena apa? karena mereka adalah kamu, saya. artinya, siapa pun kita, mungkin pernah bertindak sehina dan senista itu. aku angkat jempol 10 jika ada orang yang sama sekali belum pernah melakukan dosa hina seperti yang disebut di atas. jadi, aku kumpulin temenku 5 lagi. kami angkat jempol. nah, jangan 10 deh. kita kasi 12. 


bagi kamu yang sedang tertindas di luar sana, entah di rumah, di tempat kerja, di sekolah ... yuk, ambil nafas panjang dan lepas, hempasss! ke mana pun kita pergi akan ada orang2 seperti itu. mau nggak ketemu orang kaya gitu? gampang. mulai dari diri sendiri. gimana?


menurutku sifat manusia itu adalah magnet bagi manusia lain. sifat tertentu yang ada dalam diri kita akan menarik manusia lain yang memiliki sifat yang sama ke lingkaran kita. coba cek diri masing2. orang baik, pasti akan bergaul dengan orang baik. jika ada orang baik bergaul dengan orang tidak baik, kemungkinan hanya ada dua; dua duanya jadi baik atau menjadi tidak baik. coba lihat sekumpulan tukang gosip, mereka ngumpul karena mereka sama2 suka gosip. kalau ada yang nggak suka gosip, mah, udah pasti tinggalin group itu. atau, menjadi suka nge gosip. gitu pokoknya.


jadi, mulai dari diri sendiri. jika ingin ketemu orang baik, jadilah orang baik. jika mau ketemu sama atasan yang nggak songong dan belagu, jadilah nggak songong dan belagu duluan. orang songong mana sih yang nggak tersentuh melihat orang baik2. iya nggak? 


so, ketemu orang sombong, songong, belagu, arogan, dan bertindak seperti penguasa langit dan bumi? kesal marah? eits! tunggu dulu. ambil cermin diri, dan lakukan refleksi. apakah aku juga begitu? jangan jangan, semua ini dimulai dari aku? 


begituh.

Jumat, 04 September 2020

Landak

kita hanya kelihatan kuat dari luar
namun rapuh di dalam

bukan

rapuh adalah definisi kita
sehingga kita perlu kelihatan kuat dari luar

Jumat, 19 Juni 2020

musang atau domba?

ada satu hal yang sering kupertanyakan
namun tak kunjung kutemukan jawaban

ku berikan diriku kesempatan untuk diam
dan merenungkan
sebab mungkin aku yang salah
dan harus mengalah

jangan jangan nanti aku malu
sebab ternyata mereka yang benar
dan aku dicecar


aku berada dalam posisi sedang dibenci dan disudutkan karena melakukan sesuatu sesuai keinginanku namun tidak sesuai keinginan mereka. namun aku maklum, jika aku adalah mereka dan berada pada posisi dan situasi mereka, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama.

aku mencoba telusuri ke belakang. iya, banyak hal di dalam hidupku telah kuputuskan sesuai dengan mauku. aku akan mencoba mencari celah yang sah dan tidak melanggar hukum agar mauku tercapai. aku berpikir, selama tidak melanggar hukum, tidak merugikan atau menindas orang lain, sah sah saja. tapi ternyata tidak begitu. peraturan yang diterapkan di dunia ini berlapis lapis, sesuai dengan keperluan dan kepentingan tempat dan masa sesuatu itu terjadi.

benar, aku dibesarkan untuk menjadi sedemikian rupa, berjalan di jalanku sendiri. aku telah memutuskan untuk tidak berjalan dalam gerombolan, memihak kepada kelompok atau menjilat ke atasan. itu sama sekali bukan aku. sangat sulit. butuh seseorang seperti aku untuk bisa bertahan sejauh ini. namun mungkin aku sudah tiba di garis akhir. mungkin harus mengubah haluan.

tempat dan masaku kini, adalah mereka yang percaya bahwa harga diri dan wibawa mereka adalah yang utama. ketika keinginan kita berbenturan dengan hukum itu, maka kita tiada. sesederhana itu.

aku sedang berhadapan dengan orang munafik, berhati busuk, berpikir untuk keuntungan ke arah mereka sendiri, yang dari mulut bibir sangat mudah mengeluarkan intimidasi dan menjatuhkan orang lain, namun dalam waktu yang sama mengagung2kan ajaran agama dan menjualnya.

aku benci dengan keadaan ini. aku muak dan tidak bisa membayangkan jika kelak aku berada dalam posisi itu. karena mau tidak mau, aku sedang berjalan ke arah mereka kini. aku kini adalah mungkin mereka yang dulu. apakah aku akan sama dengan mereka? itu sebabn

atau mungkin ini adalah saat yang tepat bagiku memutus mata rantai menuju ke sana. sesungguhnya aku bisa mengambil haluan dan berbelok ke arah yang ku mau? entahlah. aku masih orang yang sama seperti kemaren. pengecut.

Selasa, 26 Mei 2020

Ma ...

Ada rasa yang menghujam dada setiap kali mengenang kisah kita

Rasa benci untuk kisah yang sudah ada
Rasa sedih karena ku tau kau tidak pernah bermaksud demikian
Rasa dendam kepada siapa pun yang sudah memperlakukanmu tidak adil
Rasa marah untuk setiap derita yang pernah kita terima
Rasa cinta karena kau adalah hadiah Tuhan untukku (apakah aku adalah hadiah juga untukmu?)
Rasa bersalah karena tidak bisa mewujudkan impian dan rasa banggamu

Selalu begini,
Aku lelah,
Namun begitulah,
Kita terima saja,
Apa adanya.

Namun kita sama sama tau, 
Yang paling kuat dari rasa itu,
Adalah cinta.

Kamis, 21 Mei 2020

Social Media Wise

My circle is small, and I make sure to secure whoever inside it --- Ennikederu.

aku selalu memilih untuk berada dalam kumpulan sedikit orang namun berkualitas. agar aku juga bisa maintain orang orang penting dengan daya dan upayaku yang terbatas. salah satu syarat yang sudah termaktub (dengan tanpa sadar) adalah orang orang yang memiliki cara berkomunikasi yang sehat dan cocok dengan kepribadianku. aku ingin suatu percakapan yang mendalam, yang mengerti satu sama lain walau kadang tidak dibicarakan secara verbal, kadang aku prefer cara komunikasi yang apa adanya atau blak-blakan dan kadang harus diajak bicara secara pelan pelan (tapi mostly, I hate diajak bicara pelan2. jika aku ditemukan sedang bicara pelan2 dan lemah lembut, it means that aku sedang berada di antara orang2 di luar lingkaranku, orang2 yang harus kujaga persaannya dan orang2 yang sesegera mungkin kusudahi waktu percakapan kami, karena tidak nyaman). mengapa begitu?

setiap kita punya alasan dibalik setiap tindakan yang kita putuskan untuk lakukan di dalam hidup. demikian juga dengan aku, aku punya alasan. dan selamat, jika kamu sudah menemukan alasan dan dengan sadar memutuskan untuk melakukan apa di dalam hidup, artinya kamu sudah cukup dewasa dalam mengenali diri kamu dan sudah tahu sebab akibat dari keputusan yang kamu ambil dan kabar baiknya, you know how to treat yourself better (but beware of being selfish ya, kalau terlalu over, ini mengarah kepada self pity dan egoism).

Just know when to stop -- Ennikederu.

itu adalah semboyanku. bagiku, bagi manusia, it's normal to experience all kinds of emotions and deeds. but, as a human being, we are expected to learn and change better after learning. so, jangan berhenti belajar, jika akhirnya kite menemukan bahwa emosi atau kelakuan kita tidak sehat, ya berhenti. know when to stop, and stop. maka kita akan menjadi bijak by and by.

kembali ke topik.

satu dari sekian alasan yang membuat aku klik dengan orang secara jiwa dan raga adalah cara berkomunikasi. selain yang sudah aku sebutin di paragraf pertama, aku akan lebih spesifik menjelaskan -- social media wise -- apa itu?

konon, ketika pertama kali register di sosial media yang ada, aku juga mabok untuk posting di sana. tanpa pikir panjang, aku posting aja suka2. kala itu, pernah ada momen2 di mana aku tersinggung oleh postingan teman atau teman dibuat tersinggung oleh postingan saya. tersinggung bisa dalam arti, marah, cemburu, iri dan bahkan sampai dendam dan balas2an. nah, but I knew when to stop. lama lama kok kayanya ada yang ganjil ya?

kan saya ketemu orangnya? kenapa nggak ngomong baik2? itu kalau that person matters loh. dan lagipula, kalau mereka nggak matter samasekali dalam hidup saya, kok saya peduli? gitu. nah lama lama, akupun menyaring teman2. dan berubah menjadi seseorang yang aku inginkan menjadi temanku. setiap kali akan posting di sosmed, aku akan mikir berulang2. apa gunanya?

nah, sebelum posting di sosial media, tanya berkali2 (kok ribet ya? iya emang, orang bijak emang ribet mempertimbangkan sana sini, tapi lama2 akan terbiasa)
1. apa tujuan posting ini?
2. apa gunanya untukku?
3. apa gunanya bagi teman2 yang ada di sosmed ini?
4. apakah ada kemungkinan untuk membuat orang2 tertentu merasa tidak nyaman?

dan seringkali, aku akhirnya urungkan niat posting.

contoh: orang yang posting untuk jualan, kan udah pasti, untuk tujuan marketing. apakah salah? menurutku nggak. justru aku berpikir, dia sedang bijak menggunakan sosmed.

orang yang posting makanan? hmmm... tanya dulu, buat apa? mau berbagi resep? silahkan banget, alangkah indahnya jika disertai dengan steps2 tutorial. itu namanya kita sedang mencerdaskan teman2 yang ada di lingkaran sosmed kita. kalau hanya sekedar posting (aku pernah, dulu waktu mabok sosmed sering, akhirnya kusadari, apalagi kalau bukan untuk pamer? :D) sebaiknya jangan. ada kemungkinan akan terjerat point no.4 di atas, ada yang merasa tidak nyaman. pernah nggak sih kita mikir bahwa ada loh orang2 yang bahkan untuk menyediakan makanan di atas meja makannya mereka struggling, bisa bayangkan apa pengaruh postingan kita? atau sekalian aja give away, bagi2, kan indah jadinya. tapi orang2 yang masuk sosmed freak akan menjawab, "lah, suka2 saya dong, ini kan akun saya. kalau nggak suka silahkan unfollow, dsb". permainan watak dimulai. maka, orang wataknya kuat lah yang menang. fenomena ini muncul di kalangan para pengguna internet, yang wataknya kuat akan menang meskipun faham yang dianut salah, dan tidak kecil kemungkinan akan diikuti fahamnya oleh mereka2 yang merasa cocok. and aku saran, hellaw... bangun yuk, wake up! kembali ke kehidupan nyata dan praktik norma2 yang wajar saja.

yuk kita masuk kesimpulan. namun aku mau cerita dulu.

dulu sekali. suati hari, aku konsultasi dengan seseorang via wa. pembicaraan itu selesai dengan wajar, dan menurutku tidak ada masalah. dan besok paginya, orang ini posting nasehat dengan nada menggurui di sosmed terkait pembicaraan kami semalam, yang kemudian membuat hatiku terbakar. pertanyaanku, kenapa nggak tutup pembicaraan semalam dengan nasihat ini? aku pasti akan dengan terima dengan segala respek, toh aku yang meminta pendapat. mulai detik itu, orang itu cancelled! that person is out from my circle! Hi fellas, if you think that someone is matter to you, talk to them personally. caranya? I think dalam hal ini, cara apapun oke. karena jika caramu benar lebih baik, jika caramu salah, time will heal the wound. as long as the convo is kept privately. dan jika the wound takes too long to be healed, not your fault. jika dia orang bijak, one day dia akan sadar kok bahwa anda benar dan tulus. instead of posting it in socmed! it draws distance between you.

dan kali ini, pengalaman serupa terjadi. that person keep on posting something (allusion) related with personal matter in socmed. hi dude, you are cancelled! out of my circle!

yuk, be social media wise. dunia ini akan maju besar2an menuju ke internet based life. kalau kita nggak wise dan latihan setiap hari, kita akan tergilas.



Minggu, 10 Mei 2020

me

sudah 8 minggu, kurang lebih, kita berdiam di rumah dan tidak bersosialisasi secara langsung. aku bilang, kita kembali ke habitat masing masing.

jika sebelumnya kita bisa keluar dari habitat belajar hal hal baru yang basically kita nggak dapat di rumah. kita berbaur, belajar dan berubah.

cetakan asli manusia adalah rumah. keadaaan dan cara mendidik orangtua/keluarga membentuk masing masing kita. ketika kita keluar rumah; sekolah, kerja, komunitas, dlsb, kita belajar hal baru dari orang lain (tergantung baik atau buruk) dan kita berubah.

bisakah kusimpulkan, diri kita yang kini adalah kita yang asli?

aku kembali menjadi diriku yang sangat menyendiri dan terhindar dari paparan luar. bisa dikatakan, keadaan ini "is me". walaupun adakalanya lelah dan bosan melanda. siapa yang nggak merasakan ini coba? terpenjara di dalam rumah dan nggak bisa ke mana mana.

dan akhirnya, sifat asli orang orang yang tadinya aku kenal, kembali ke permukaan. kita yang tadinya sama sama berjuang untuk berubah dan sama dengan orang orang dalam komunitas kita, kembali ke habitat masing masing dan sifat masing masing. anak sekolahan yang tadinya berusaha berubah baik sesuai nilai nilai yang dianut institusi pendidikan, kini kembali ke cetakan masing masing.

kelihatan dari mana? sederhana, dalam interaksi online. kita muncul sebagaimana kita. anak anak yang memang dicetak dalam keluarga yang broken dan tidak bermoral, akan bertindak serupa, sebab sudah tidak ada saringan ditambah lagi ada dukungan moril dari keluarga (melalui interkasi kehidupan sehari2). anak anak yang memang dicetak dalam keluarga bagus, akan kelihatan dari anak anak yang tetap bertindak sopan dan sesuai norma.

pikir pikir, keadaan ini menyaring hal hal baik atau buruk dalam driri kita. ayo bercermin, siapa kah kita ketika ada atau tidak ada orang lain?

Mereka adalah Aku

 pernah nggak sih ketemu sama orang yang arogan, belagu, sombong dan menggunakan wewenangnya seenaaknya seolah-olah mereka yang empunya semu...