Postingan

Manusia, Guru

Menjadi guru itu rasanya nano nano. Seperti ada di atas roller coaster, rasanya turun naik dengan tajam. Kadang bahagia bertemu dengan anak anak yang tingkahnya lucu dan menyenangkan. Kadang pengen nangis jika berhadapan dengan anak yang, aduh, tingkahnya menyebalkan atau menyakitkan hati. Itulah guru. Berhadapan dengan manusia dengan segala kemanusiaannya, sama juga seperti, manusia. Sehingga rasa nggak akan pernah sama, monoton, atau konstan, segala sesuatu mengalami perubahan.Saat ini aku galau, sedang sedih, karena itulah, anak muridku, aku membuat hatinya terluka. Dan aku merasa bersalah. Bukankah aku sudah paham bahwa aku tidak boleh berpihak pada sisi manapun?
Bahwa aku harus memperlakukan anak anakku dengan porsi yang berbeda2 sesuai kebutuhan mereka? Well, kali ini aku lepas kendali, aku sedang memenuhi seseorang namun menguras satu orang yang lain.
Bukankah aku harusnya bertindak tidak tau apa apa dulu kemudian bertanya? Bukan menghakimi.
Maafkan aku anakku. Aku hanya seora…

Aku Kuat

Daddy ...Kemaren aku berhasil mengukur kekuatanku.
Kau mengingatkan, agar aku tidak lupa dan terus berjuang karena aku kuat.Di ruang ruang hampa.
Di lorong lorong sunyi.
Di bagian yang paling panas ataupin dingin.
Di atas tapak tapak kasar berduri.
Kau di sana.Itu yang kadang kulupakan, bahwa,
Kau di sana.Aku kuat.Love you Daddy.

Bunga

Bukankah kita bunga?Berjuang menyeruak menyisihkan debu
Sedaya mampu kita, menyerap energi dari tanah tandus
Berkeringat darah dan air untuk terus tumbuh
Menantang langit agar kelihatan kuat
Berteduhkan hujan meski dingin untuk mendapatkan airBukankah kita bunga?Pada akhirnya kita kerahkan tenaga untuk percantik kelopak kelopak yang mulai ada.Cantik.Indah, kata orang.Mereka tidak bersama kita sebelum mekar.
Mereka juga akan lewat saja setelah bosan.
Kita akan dilupakan ketika telah layu.Namun, bukankah kita bunga?Untuk setiap fase yang sudah kita lewati, mengapa tidak bahagia saja?
Kita hanya sebentar.
Untuk ke-sebentar-an ini, mengapa kita tidak bahagia?Kita hanya bunga.

Riak

Ini hanya riak,
Karna mengalir, terbentur, jatuh, dan beriak.

Sepotong Kayu

Kita hanya sepotong kayu
Pernah hijau dan lemah
Kemudian bertambah kuat
Menua berwarna coklat
Mengering dan berubah lapukMengapa tidak terima saja siklus itu?
Tidakkah terlalu angkuh untuk tetap menjulang gagah meski tengah lapuk?
Sebentar juga akan ambruk.
Meresap bersama bumi.
Entah kelak berwujud lain.
Toh, kita hanya sepotong kayu.

Entah Siapa

Aku mencintai mu yang tiada
Kurengkuh hanya bayangmu
Kupeluk hanya citramu
Kutaruh dalam angankuAku mencintaimu yang entah siapa

Manusiawi

Manusia hanya bicara
Kemudian lupa
Ingin seerti bintang
Namun hanya dia, manusiaDia jatuh
Persepsinya runtuh
Telanjang
Dan pulangDia hanya manusia
Yang kini teriak
Esok lunglai
Karna dia manusiaYa gitulah...